Saat ini ummat muslim diseluruh Indonesia
dan bahkan dunia sedang bereforia mengadakan perayaan hari lahirnya Nabi
Muhammad Rasulullah SAW. Dan ada fenomena baru yang kita temukan dalam
menyambut perayaan ini, dulu sebelum hari raya Idul Fitri atau hari raya Idul
Adha masyarakat disibukkan dengan baju baru, ramai-ramai kepasar untuk membeli
baju baru untuk keluarganya. Sekarang fenomena ini merambah kepada perayaan
maulid, ada beberapa golongan masyarakat yang mengkultuskan tingginya perayaan ini
dengan membeli baju baru untuk perayaan Maulid. Sungguh masyarakat sekarang
mulai menambah hari raya setelah dua hari raya tadi menjadi hari raya maulid. Para
Dai atau penceramah pun dengan semangatnya menyampaikan hadist-hadist yang
mendukung pelaksanaan perayaan Maulid Nabi tersebut. Ada 3 referensi utama yang
selalu digembar-gemborkan oleh mereka yaitu :
- Rasulullah Bersabda “Barangsiapa membesarkan hari kelahiranku niscaya dia akan bersamaku disurga”
- Rasulullah Bersabda “Barangsiapa membelanjakan satu dirham untuk Maulidku maka seolah-olah ia membelanjakan emas sebanyak sebuah gunung untuk agama Allah”
- Dan telah berkata pula Saiyidina Utsman radhi Allahu ‘anhu: “Barang siapa mengeluarkan satu dirham untuk Maulid Rasulullah s.a.w. maka seolah-olah ia mati syahid didalam peperangan Badar dan Hunain.”
Jika kita menelusuri sanad hadis
ini, sudah sangat jelas kalau hadis ini adalah hadis palsu karena tidak jelas
asal usulnya. Mari kita bahas saja secara logika tentang hadis ini.
Rasulullah SAW menjadi Rasul Allah
SWT selama ±
23 tahun, Abu Bakar As Siddiq radhi Allahu ‘anhu menjadi khalifah ± 2
tahun, Umar bin Khattab selama ± 10 tahun, Utsman
bin Affan selama ± 12 tahun dan Ali
bin Abi Thalib ± 6 tahun. Selama
23
tahun Rasulullah SAW dan 30 tahun
khulafaur rasyidin tidak pernah ada sedikitpun sejarah perayaan Maulid Nabi, padahal
melihat tingginya derajat ibadah ini kenapa perayaan maulid tidak
diselenggarakan. Tidak mungkin sejarah lupa mencatat jika ada perayaan tersebut.
Padahal sekecil apapun kegiatan Rasul dan para khulafaur tetap dicatat oleh
sejarah, Rasulullah bertemu dengan Abu Bakar hanya berdua saja dicatat oleh
sejarah, kita tau apa yang menjadi pembicaraan mereka. Umar Bin Khattab
berbincang dengan seorang Baduy atau bertemu dengan keluarga miskin di tengah
malam gelap tapi tetap dicatat oleh sejarah. Bayangkan jika ibadah maulid
diselenggarakan, dengan kedermawaan Abu Bakar pasti akan menyembelih puluhan
atau bahkan ratusan ekor unta untuk membesarkan hari kelahiran Rasulullah, pasti
ratusan atau bahkan ribuan orang akan menghadirinya dan pastinya perayaan ini akan
terekam dalam sejarah. Tetapi pernahkan kita membaca atau mengetahui perayaan
yang diselenggarakan pada saat Rasulullah hidup atau semasa pemerintahan khulafaur
rasyidin?
Baiklah sekarang kita turun ke
gradenya para Imam Mazhab. Dari 4 imam besar mazhab tidak ada satupun referensi
yang menceritakan tentang perayaan Maulid. Padahal tingginya derajat ibadah ini
disamakan dengan Jihad kenapa tidak ada referensinya? Di Indonesia yang
mayoritas Muslimnya menganut mazhab Syafi’i, kita tau imam Syafi’i ini penulis
kitab terkenal dan terlengkap yang berjudul Kitab AL-UMM. Dalam kitab ini
tertulis begitu detailnya segala tata cara beribadah dan malahan tata cara
buang air kecil dan besar pun tertulis dengan detilnya, semuanya lengkap. Tetapi kenapa
perayaan maulid yang merupakan ibadah yang sangat tinggi derajatnya menurut
hadis-hadis di atas tidak tertera dalam kitab ini? Berarti terbukti kalau hadis
tersebut palsu dan perayaan maulid tidak ada referensinya dilaksanakan oleh
Rasulullah, para sahabat dan imam mazhab.
Perayaan maulid dilaksanakan pertama
kali oleh Sultan Salahuddin Al-Ayyubi yang merupakan salah seorang
pejuang dalam perang salib yang dikagumi banyak orang. Tujuan dilaksanakan
Maulid Nabi adalah untuk membangkitkan semangat juang kaum muslimim dalam
berperang melawan kafir. Hasil peringatan Maulid Nabi di era Salahuddin itu,
ternyata sangat mencengangkan. Semangat Ummat Islam untuk menghadapi prajurit
Eropa dalam perang salib kembali bergelora. Akhirnya pada tahun 583 H/1187 M,
Salahuddin dan pasukannya berhasil merebut Yerussalem dari tangan bangsa Eropa.
Kita lihat semangat Maulid yang
dilaksanakan sekarang, para dai dan penceramah berlomba-lomba mensyiarkan hadis
palsu yang tidak jelas riwayatnya. Apakah mereka tidak takut dengan hadis sahih
dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda:
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 107 dan Muslim no. 3)
“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 107 dan Muslim no. 3)
Menciptakan hadis palsu untuk
memuluskan pelaksanaan kegiatan yang tidak ada sejarahnya dalam kehidupan
Rasulullah dan para sahabat, silakan ditelaah sendiri akibatnya.
Akibat dari hadis palsu tersebut sangat besar, orang miskinpun berhutang untuk membeli bahan makanan
agar bisa kenduri dibulan Maulid karena besarnya pahala yang akan diperoleh dan
bahkan akan menemani Rasulullah di dalam surga. Padahal yang datang pada saat
perayaan maulid itu kebanyakan adalah orang-orang yang tidak jelas statusnya,
apakah dia ahli ibadah atau bukan. Memang ada pengunjung dari golongan fakir
miskin, anak-anak yatim, tetapi itu hanya sebagian kecil. Yang lebih
menyedihkan lagi banyak panitia maulid malahan tidak pernah shalat berjamaah di
mesjid kampungnya sendiri.
Selanjutnya mari kita evaluasi
hasil dari perayaan maulid tersebut apakah ibadah masyarakat meningkat? Apakah ibadah
kita sudah sesuai dengan Rasulullah? Kalau kita lihat jamaah mesjid sebelum dan
sesudah perayaan maulid, tetap sama satu saf saja tidak penuh pada saat shalat
magrib, bagaimana dengan jamaah shalat isya dan subuh? Jadi bisa dikategorikan perayaan maulid adalah bentuk
ibadah yang tidak jelas ada landasan hukumnya dan sebuah bentuk kegiatan yang
sia-sia. Wallahu’alam
bissawab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar