Rabu, 07 Juli 2010

Matrix Bola dan Monopoli








Melihat perhelatan Piala Dunia 2010 sungguh sangat menakjubkan, sepak terjang pemain-pemain top dan goyangan-goyangan mereka mampu membuat mata kita melek sampai pagi. Tp event ini di Negara kita hanya bisa dinikmati oleh orang-orang kota besar dan orang-orang kaya. Kenapa saya berani memvonis seperti itu??? Dari hasil survey didaerah saya yang berada di Bireuen provinsi Aceh , kami tidak bisa menggunakan antenna UHF untuk mendapatkan siaran RCTI dan Global TV, untuk mendapat siaran TV tersebut kami harus menggunakan Parabola dan Digital Reciver. Sedangkan siaran piala dunia akan discramble jika menggunakan receiver biasa, jadi kami harus merogoh kocek hingga 2,2 jt untuk membeli receiver khusus yaitu Matrix Bola. Itu hanya untuk 1 bulan pakai, sedangkan untuk kota besar seperti Medan, Jakarta, masyarakatnya sangat leluasa menonton karena bisa menangkap siaran RCTI dan Global TV hanya dengan antenna UHF yg seharga 100 ribu perak. Solusinya kami harus nongkrong di Café-café yang membuat nonton bareng dengan merogoh kocek yg lumayan untuk setiap malamnya.
Itu baru untuk Piala Dunia 2010, belum lagi untuk EPL (England Premier League) dan Liga Italia, kami harus memasang Indovision untuk EPL dan Telkomvision untuk Liga Italia. Otomatis dirumah kami harus nyantel 3 payung parabola untuk menerima siaran bola itupun bagi mereka yang kaya-kaya. Kenapa harus begini???? Saya dengar ada pejabat yang mengatakan “ini untuk tidak adanya monopoli” apakah biar tidak adanya monopoli rakyat harus mengeluarkan uang yang banyak untuk mendapatakan tayangan favorit mereka? Saya tidak tau banyak tentang Negara Malaysia, tapi yang saya tau untuk EPL dan Piala Dunia 2010 mereka tetap dimonopoli oleh Astro, kata-kata MONOPOLI ini bisa membuat rakyatnya puas dengan kebijakan mereka. Rakyat tidak perlu gonta-ganti Receiver. Di Negara kita? Untuk nonton piala dunia 2006 hrs memakai Matrix Soccer, kemudian tahun 2010 Matrix Bola, tahun 2012 entah Matrix apalagi, membuat pusing dan bangkrut rakyat tapi membuat kaya para pengusaha, baik itu pengusaha toko elektronik, produsen dan juga pemilik Café-café.
Saya tidak tau kemana surat ini harus ditujukan, apakah ke Menkoinfo, atau Komisi Penyiaran Indonesia atau entah siapa……..