Kamis, 31 Januari 2013

Benarkah Perayaan Maulid berasal dari Rasulullah SAW?



          Saat ini ummat muslim diseluruh Indonesia dan bahkan dunia sedang bereforia mengadakan perayaan hari lahirnya Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Dan ada fenomena baru yang kita temukan dalam menyambut perayaan ini, dulu sebelum hari raya Idul Fitri atau hari raya Idul Adha masyarakat disibukkan dengan baju baru, ramai-ramai kepasar untuk membeli baju baru untuk keluarganya. Sekarang fenomena ini merambah kepada perayaan maulid, ada beberapa golongan masyarakat yang mengkultuskan tingginya perayaan ini dengan membeli baju baru untuk perayaan Maulid. Sungguh masyarakat sekarang mulai menambah hari raya setelah dua hari raya tadi menjadi hari raya maulid. Para Dai atau penceramah pun dengan semangatnya menyampaikan hadist-hadist yang mendukung pelaksanaan perayaan Maulid Nabi tersebut. Ada 3 referensi utama yang selalu digembar-gemborkan oleh mereka yaitu :

  • Rasulullah Bersabda “Barangsiapa membesarkan hari kelahiranku niscaya dia akan bersamaku disurga”
  • Rasulullah Bersabda “Barangsiapa membelanjakan satu dirham untuk Maulidku maka seolah-olah ia membelanjakan emas sebanyak sebuah gunung untuk agama Allah”
  • Dan telah berkata pula Saiyidina Utsman radhi Allahu ‘anhu: “Barang siapa mengeluarkan satu dirham untuk Maulid Rasulullah s.a.w. maka seolah-olah ia mati syahid didalam peperangan Badar dan Hunain.”

Jika kita menelusuri sanad hadis ini, sudah sangat jelas kalau hadis ini adalah hadis palsu karena tidak jelas asal usulnya. Mari kita bahas saja secara logika tentang hadis ini.

          Rasulullah SAW menjadi Rasul Allah SWT selama ± 23 tahun, Abu Bakar As Siddiq radhi Allahu ‘anhu menjadi khalifah ± 2 tahun, Umar bin Khattab selama ± 10 tahun, Utsman bin Affan selama ± 12 tahun dan Ali bin Abi Thalib ± 6 tahun. Selama 23 tahun Rasulullah SAW  dan 30 tahun khulafaur rasyidin tidak pernah ada sedikitpun sejarah perayaan Maulid Nabi, padahal melihat tingginya derajat ibadah ini kenapa perayaan maulid tidak diselenggarakan. Tidak mungkin sejarah lupa mencatat jika ada perayaan tersebut. Padahal sekecil apapun kegiatan Rasul dan para khulafaur tetap dicatat oleh sejarah, Rasulullah bertemu dengan Abu Bakar hanya berdua saja dicatat oleh sejarah, kita tau apa yang menjadi pembicaraan mereka. Umar Bin Khattab berbincang dengan seorang Baduy atau bertemu dengan keluarga miskin di tengah malam gelap tapi tetap dicatat oleh sejarah. Bayangkan jika ibadah maulid diselenggarakan, dengan kedermawaan Abu Bakar pasti akan menyembelih puluhan atau bahkan ratusan ekor unta untuk membesarkan hari kelahiran Rasulullah, pasti ratusan atau bahkan ribuan orang akan menghadirinya dan pastinya perayaan ini akan terekam dalam sejarah. Tetapi pernahkan kita membaca atau mengetahui perayaan yang diselenggarakan pada saat Rasulullah hidup atau semasa pemerintahan khulafaur rasyidin?

          Baiklah sekarang kita turun ke gradenya para Imam Mazhab. Dari 4 imam besar mazhab tidak ada satupun referensi yang menceritakan tentang perayaan Maulid. Padahal tingginya derajat ibadah ini disamakan dengan Jihad kenapa tidak ada referensinya? Di Indonesia yang mayoritas Muslimnya menganut mazhab Syafi’i, kita tau imam Syafi’i ini penulis kitab terkenal dan terlengkap yang berjudul Kitab AL-UMM. Dalam kitab ini tertulis begitu detailnya segala tata cara beribadah dan malahan tata cara buang air kecil dan besar pun tertulis dengan detilnya, semuanya lengkap. Tetapi kenapa perayaan maulid yang merupakan ibadah yang sangat tinggi derajatnya menurut hadis-hadis di atas tidak tertera dalam kitab ini? Berarti terbukti kalau hadis tersebut palsu dan perayaan maulid tidak ada referensinya dilaksanakan oleh Rasulullah, para sahabat dan imam mazhab.

      Perayaan maulid dilaksanakan pertama kali oleh Sultan Salahuddin Al-Ayyubi yang merupakan salah seorang pejuang dalam perang salib yang dikagumi banyak orang. Tujuan dilaksanakan Maulid Nabi adalah untuk membangkitkan semangat juang kaum muslimim dalam berperang melawan kafir. Hasil peringatan Maulid Nabi di era Salahuddin itu, ternyata sangat mencengangkan. Semangat Ummat Islam untuk menghadapi prajurit Eropa dalam perang salib kembali bergelora. Akhirnya pada tahun 583 H/1187 M, Salahuddin dan pasukannya berhasil merebut Yerussalem dari tangan bangsa Eropa.

        Kita lihat semangat Maulid yang dilaksanakan sekarang, para dai dan penceramah berlomba-lomba mensyiarkan hadis palsu yang tidak jelas riwayatnya. Apakah mereka tidak takut dengan hadis sahih dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ  
“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 107 dan Muslim no. 3)

Menciptakan hadis palsu untuk memuluskan pelaksanaan kegiatan yang tidak ada sejarahnya dalam kehidupan Rasulullah dan para sahabat, silakan ditelaah sendiri akibatnya.

        Akibat dari hadis palsu tersebut sangat besar, orang miskinpun berhutang untuk membeli bahan makanan agar bisa kenduri dibulan Maulid karena besarnya pahala yang akan diperoleh dan bahkan akan menemani Rasulullah di dalam surga. Padahal yang datang pada saat perayaan maulid itu kebanyakan adalah orang-orang yang tidak jelas statusnya, apakah dia ahli ibadah atau bukan. Memang ada pengunjung dari golongan fakir miskin, anak-anak yatim, tetapi itu hanya sebagian kecil. Yang lebih menyedihkan lagi banyak panitia maulid malahan tidak pernah shalat berjamaah di mesjid kampungnya sendiri.

       Selanjutnya mari kita evaluasi hasil dari perayaan maulid tersebut apakah ibadah masyarakat meningkat? Apakah ibadah kita sudah sesuai dengan Rasulullah? Kalau kita lihat jamaah mesjid sebelum dan sesudah perayaan maulid, tetap sama satu saf saja tidak penuh pada saat shalat magrib, bagaimana dengan jamaah shalat isya dan subuh? Jadi bisa dikategorikan perayaan maulid adalah bentuk ibadah yang tidak jelas ada landasan hukumnya dan sebuah bentuk kegiatan yang sia-sia. Wallahu’alam bissawab